” Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan saksi aku.. “
Ini sebuah kisah nyata dari seorang sahabat saya wanita cantik dan tangguh,…
Life is unfair but Allah is Fair.
Sejenak saya merenung sama kalimat ini… betul jika ada kejadian buruk yang menimpa kita. Kita tidak perlu lari ketakukan kemana-mana. Mencari sosok Hero ke ujung dunia pun tak perlu. Mengapa?
“Cukuplah Allah yang menjadi Pelindung dan saksi kamu..”
Kalimat tegas ini disampaikan sahabat saya juga kepada sang wanita cantik itu.
Jujur saya terpana dengan kalimat yg terucap tadi. Sederhana namun berarti sekali di hati dan pikiran saya…
Saya mulai kisahnya Wanita itu..
Dalam dua pekan ini hidupnya tidak tenang. Kehidupan di kota baru yg tinggal sendiri dan dengan adaptasi baru di tempat kerjanya. Membuat sang wanita ini rapuh dan terus rapuh.. merasa sendiri.. kesepian disetiap malam.. mungkin benar juga beda dengan kehidupannya yg sebelumnya, Hidup di kota besar… Ramai akan pemandangan…
Namun sekarang berbanding sebaliknya.. ironi memang.. tapi inilah Karir dia untuk masa depannya memulai dr bawah dan terus maju untuk bertahan Hidup.
Namun ada sedikit yg berbeda dengan Sahabat saya ini sebenarnya Ia tergolong orang yang cukup dikenal di lingkungannya, sahabat yg luas, Jaringan pertemanan yg cukup banyak, orangnya pun ramah mudah sekali bersosialisasi.
Tapi entah kenapa di balik ceria wajahnya itu dia mampu menyembunyikan rasa putus asa yg tak begitu banyak diketahui orang, sahabatnya pun tidak tahu. Ya mungkin sekilas dua kilas menanyakan keadaan apa yang terjadi..
Dan untuk itu saya penasaran dan memberanikan bertanya kepadanya…
Apa yg dia sebenarnya pikirkan, Jeritan Hati apa yg membuatnya diam dan menangis sepanjang malam..
Diapun berani jujur dan mengatakan kepada saya,
Sebut saja nama sahabat saya Dita.
“ Apa yang aku punya sekarang itu semua semu. Kebahagianku sekarang hanya berarti untuk keluargaku, sahabat-sahabatku, dan beberapa orang lainnya. Tapi tidak untuk pasanganku. “
Aku beranikan lagi untuk bertanya, Kenapa bisa begitu..? Tanya penulis.
Si ditapun menjawab sambil mengingat apa yg terjadi pada kisahnya,
“Saya baru saja putus dengan pasangan saya. Kita berjauhan kota. Tapi buat saya Hubungan jarak jauh itu unik. Yang ada ingin ketemu dia dengan rasa rindu. Tapi yg terjadi pada diri saya sebaliknya. Pertengkaran dan pertengkaran terjadi di hubungan kita, salah paham yg ga karuan, egois dan Emosi yg tak terkalahkan. Saya memang pribadi ada sifat kerasnya. Tapi saya yakin saya juga di ciptakan sebagai Ibu nantinya, harus berlemah lembut.
Terakhir saya yang memutus hubungan ya jujur waktu itu saya merasa butuh perhatian dr dirinya namun mungkin ga sengaja pasangan saya malah sebaliknya jawaban yang saya terima tidak enak dihati.. Akhirnya saya spontan dan kesal meminta putus. Saya merasa kecewa dengan pasangan saya saat itu. Saya merasa butuh dia tapi jawaban yang dia beri kesaya bukan melapangkan dada saya. Emosilah disitu hati kecil saya. Tidak banyak berfikir saya.”
“Dan 3 hari kemudian kami tak ada komunikasi hanya sms sedikit demi sedikit . Dan sayapun memberanikan diri untuk minta balikan, disitu saya sudah siap dengan resiko2. Artinya resiko dr pasangan saya pun saya siap terima.
Dan memang betul meskipun hubungan kami menyatu kembali. Dan siap menghadapi masa depan bersama. Namun dalam perjalanan sungguh saya sendiri hampir tidak kuasa menahan tak kuat. Sikap semau gue dari dirinya kesaya, hapus-hapus foto kita di social network, sikapnya yang dingin terhadap saya. Hampir membuat saya patah semangat…
Waktu saya menawarkan perdamaian kepada nya itu memang tak lebih karena keluarga kita kenal dan kita pernah punya Comit buat berjuang bersama-sama dan menikah. Itu saya pertahankan.
Sayapun menyayanginya juga. Buat saya dia bisa menjadi seorang suami yg baik dan jadi ayah yg baik untuk anak2 saya nanti. Keadaan dia saat ini adalah sementara. Saya yakin jika ada gelap ada terang, ada kesulitan pasti juga ada kemudahan.
Saya tidak tau apa 3 bulan perkenalan itu yg terlihat dari seseorang yg kita cintai adalah manisnya. Dan setelah tiga bulan itu watak aslinya muncul sebenarnya.
Jujur saya kaget bukan kepayang melihat hal-hal ini lagi..
Prinsip saya,saya punya niatan baik yang besar dan itu antara saya dan Allah..
Jika memang pada akhirnya saya ga mampu itu artinya Allah telah mencabut rasa sayang ini untuknya. Namun point berharga disini adalah saya Usaha dan insaallah kualitas hidup saya pun naik derajatnya karna saya merasakan kesabaran luar biasa dan Rela hati dengan sikap semaunya dari dirinya.
Keadaan ini juga tak bisa disalahkan kepada sang lelaki mungkin apa yg terjadi memang benar2 berjalan dengan sendirinya. Flow likes water.
Lalu apa yg buat kamu sedih,” Tanya saya (penulis)
“ Saya sekarang berada di kota baru, hidup sendiri dan pastinya saya butuh pasangan saya meski tangan tak berjabatpun saya sudah cukup bahagia dengan support-supportnya suaranya di telfon. Buat saya itu sdh cukup. Ditambah saya online internet jarang2, hp juga bukan pakai bb yg biasa online harapan saya hanya pada Komunikasi telpon dan sms. Tapi ternyata itupun bisa dihitung pakai jari. Ironis bukan hidup saya akhir-akhir ini..”
Dalam hati penulis, Iya ironi mbak… maaf ya
“lalu harapan mbak apa dengan keadaan hubungan mbak ini?” Tanya penulis lagi.
“saya kangen lihat dia yang dulu, bijaksana, tenang, penyayang.. tapi saya juga ga maksain jika keadaan itu belum saya temukan ke dia. Setiap malam saya berdoa dan sholat malam. Dan benar-benar berteduh dalam doa. Jika dia baik buat saya, saya mohon Allah dekatkan dan ridhoi. Jika bukan Tolong pisahkan kami baik-baik. Saya pernah putus asa dalam hal ini, jika memang tidak ada cinta lagi saya di hatinya. Saya rela jika saya akan melabuhkan hati saya kepada orang lain meski saya tidak mencintainya. Tapi jika dia bisa jadi Obat penawar duka saya yang dalam, kenapa tidak..?
Penulis, “Mbak rela menghabiskan waktu sepanjang nenek – kakek bersama orang yang tidak mbak cintai?”
“Awalnya iya tidak rela, tapi saya sudah capai dengan permainan dunia ini. Seperti kata di Hadist mbak Allah menciptakan dunia untuk sebuah penderitaan dan kefanaan. Dan itu benar.
Jika memang betul ada seseorang yang mencintai saya dan keluarga saya tulus apa adanya saya rela menikah dengannya. Dan jika Allah meridhoi mudah2an Pasangan saya ini yg menjadi jodoh saya terakhir. Jika sebaliknya saya akan lapang dada dan insaalllah terus tersenyum ketika melihatnya menikah dengan orang lain.
Sempet saya dapat tawaran menarik untuk tinggal disingapore selama 6 bulan. Awalnya saya berpendapat akan mampu membantu saya utk melupakan kejadian ini semua.
Namun mungkin ini juga godaan buat saya, Jika saya pergi apa semuanya jadi lebih baik termasuk keluarga yg saya tinggalkan, sahabat2 saya, Saya rasa tidak… saya senang pasti. Tapi bukan itu kebahagiaan yg utuh. Akhirnya kesempatan itupun saya lepas dengan jiwa besar. ($1400/month)
@_@ sadar, bahwa uang bukan yang saya cari.
Lalu sekarang gimana mbak..? next step yang akan dilakukan apa? Tanya penulis penasaran.
Saya akan ngumpulin duit dalam tahun ini kerja keras ga tau gimana caranya yg penting insaallah Halal. Supaya tahun baru besok saya bisa Ibadah Umroh, meskipun mobil saya siputih harus diganti hehehe..
Batin penulis, yayayaya amin… ikut dong mbak… hehehe..
Saya (penulis) senang ketika saya bisa ngobrol banyak dengan sang wanita tersebut. Mbak Dita yang cantik dan terus berjuang dengan kondisinya sekarang.
Ada beberapa hadist yang saya temukan disini.. mudah2an para Pria bisa memetik hadist ini
“Perlakukanlah kaum wanita itu dengan baik, sebab mereka adalah yang membantu kalian.”
Tak banyak yang saya sampaikan kepada sahabat saya, yang saya ambil itupun semua dari Hadist dan pedoman alquran saya.. berikut yang saya sampaikan kepada sahabat saya..
“ Buanglah kata seandainya, kelak akan atau bisa jadi
Melajulah seperti pedang di tangan seorang Pahlawan..”
“ Kesabaranmu dalam menghadapi semua itulah yang akan dengan sendirinya menguburkan semua kehinaan. Kesabaran adalah sumber kemuliaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaafkan adalah sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemulian.”
Tak banyak yang bisa saya sampaikan kepada sahabat saya ini,..
Sejenak diapun terdiam dan mengatakan dengan nada yang berbeda jauh sebelumnya. Semangat yang positif keluar dari bibirnya…
“kamu betul, saya akan memutuskan untuk tidak menuntut hak saya dan bahwa jalan terbaik untuk keluar dari masalah ini adalah memaafkan, menganggapnya tidak pernah terjadi, bersabar, tabah, dan menutup telinga dan mata terhadap semua yang pernah terjadi, bukan begitu saudariku.”
Saya penulispun ikut senyum..
Dan kata penulis, satu lagi mbak…
“Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita.” (QS.At-Taubah: 40)
Saya penulis dan sahabat saya itupun senyum tulus mendengarnya..
Iya, “Cukuplah Allah yang menjadi Pelindung dan saksi..”
to be continue…


ren…touching me so bad
“saya juga di ciptakan sebagai Ibu nantinya, harus berlemah lembut”
sabar itu gk ada batasnya
keep on fighting sista…Allah will lead it
nitip yah buat Dita..
QS 2:216 this is my fav quotes….hopefully for her too
dita di ambil dari aprodhite.. hehe iya mbak.. Allah ada bersama kita always..
miss u